Salak Condet dalam Batik Betawi Warna Alam

Motif Salak Condet, batik tulis format sarung dengan tumpal ini dikembangkan sebagai batik betawi oleh batikpohon dengan menggunakan bahan perwarna alam (natural dye batik) telah terseselesaikan. Bersamaan dengan proses pe-lorod-an motif ini, ada motif lain dari wacana batik betawi ini.iantaranya motif Mengkudu Kemang dan motif Mengkudu serta motif Delima. Batikpohon mengangkat tema dan menamai motif ini dengan Salak Condet sebagai upaya mengekspresikan kekhasan unsur betawi dalam karya batik. Elemen motifnya terdiri dari buah salak, bunga jantan, bunga betina dan daun pohon salak .

Salak Condet , salah satu buah khas yang dulu sangat populer dibudidayakan masyarakat betawi di kawasan Condet Jakarta Timur. Keberadaannya kini berusaha dipertahankan Cagar Buah yang merupakan bagian dari Cagar Budaya di Condet - Balekambang.

Apa itu batikpohon?


Apa itu batikpohon? Sepintas pertanyaan yang mengarah pada nama varian atau jenis batik. Banyak pengunjung stand batikpohon di bebrapa even pameran melontarkan pertanyaan yang sama. Mungkin  pertanyaan yang tepat adalah mengapa dinamakan batikpohon. karena pertanyaan ini lebih mengarah kepada merek yang kami bangun. Pertanyaan ini pula sebenarnya yang menjelaskan esensi utama batikpohon  sebagai batik warna alam dan memang merupakan batik yang  hanya diwarna menggunakan bahan-bahan warna alam dari beberapa bagian sejumlah jenis pohon.

 

Seri morif Burung Merak dari batikpohon yang dikembangkan menjadi batik warna alam dengan beberapa aplikasi beberapa waktu yang lalu, ternyata menarik perhatian dan diapresiasi oleh Kedaung Group. Bentuk apresiasi tersebut adalah dengan menjadikan motif burung merak menjadi salah satu seri koleksi produk pecah belah  keluaran perusahaan ini.

Bagi batikpohon kerjasama ini memiliki nilai yang sangat berharga, selain membuktikan pencapaian pengembangan motif batik yang ternyata menarik perhatian pihak lain dengan reputasi seperti yang dimilii oleh Kedaung Group, juga memberi pilihan kepada pecinta batik untuk mengapresiasi karya batikpohon dengan medium yang berbeda.

Dari sejumlah pustaka disebutkan bahwa secara historis batik dengan motif merak lebih mengikuti selera Eropa. Batik dengan motif merak memang banyak ditemukan awal abad 20 di kawasan pesisir utara jawa dimana wanita Indo-Eropa membuat workshop batik disana (di Pekalongan).  Batik pesisir memang cenderung minim makna dan lebih sekadar menyenangkan mata. Burung Merak yang ditemukan pada batik cirebon burung merak (dan Phoenix) dianggap sebagai burung penjaga gerbang surga (pengaruh budaya cina) Jika ada batik klasik (Jogja atau Solo) yang terdapat motif merak di dalamnya, itu semata2 karena pengaruh batik pesisir saja. (berbeda dengan batik klasik yang sarat filosofi dan muatan nilai dan aturan penggunaan).

Bagi Anda yang menginginkan produk pecah belah ini menjadi koleksi atau untuk melengkapi perkakas makan-minum di rumah, tersedia beberapa aplikasi. Di antaranya adalah Coffee Set, Dinner Plate, Dissert Plate dan 2 Tier & 3 Tier Dessert Plate. Khusus untuk Coffee Set dikemas dalam box silver berbentuk koper yang elegan. Table ware motif batik burung merak ini bisa diperoleh di batikpohon atau di gerai Kedaung.

Lepas dari penawaran pilihan koleksi tableware ini, Batik pohon selalu mengajak semuanya agar menjadikan batik dengan pewarna alami sebagai alternatif pilihan. Karena ada sebuah keyakinan dengan memilikinya dan mengapresiasi varian batik ini, maka setidaknya akan memberi kesempatan pengembangannya. Pada gilirannya nanti, sedikit demi sedikit akan mempertinggi originalitas warisan budaya ini karena batik warna alam memiliki muatan lokal yang lebih banyak. Proses pembuatannya pun lebih ramah lingkungan, karena kadar pencemaran air dan tanah yang ditimbulkan relatif rendah.

Batikpohon menawarkan pilihan, lebih dari sekadar motif dan warna, tapi juga pilihan cara mencintai batik sebagai warisan tradisi dan cara ikut mencintai bumi Indonesia.