Produk Terpopuler

Visitor Counters


Pengunjung hari ini:12
Kunjungan bulan ini:497
Jumlah Kunjungan:10841
Kunjungan halaman:214746
Terhitung sejak:06 05 2010

Sedang Online

Kami punya 8 tamu online

Terjemahkan

Indonesian Arabic Chinese (Simplified) English French German Italian Japanese Portuguese Russian Spanish Swedish
Batik Betawi Warna Alam: Pengembangan Corak dan Pilihan Pewarnaan
Ditulis oleh admin   

 

Sementara para budayawan dan ahli belum mencapai kesepakatan tentang bagaimana motif batik betawi, empat dari lima motif batik yang dikembangkan sebagai batikbetawi dimunculkan oleh batikpohon. Motif batik yang sudah selesai dilorod tersebut diantaranya adalah : Mengkudu, Mengkudu Kemang, Salak Condet, dan Delima. Sementara motif Ondel-ondel masih dalam proses pewarnaan.

Pengembangan motif ini dilakukan dengan mencoba menyerap popularitas sejumlah jenis flora di kawasan Jakarta. Mengkudu, misalnya, tanaman yang salah satu bagiannya bisa digunakan sebagai pewarna batik ini, sangat mudah ditemukan di banyak sudut di Jakarta. Atau salak condet yang begitu populer dan menjadi ikon kota Jakarta. Begitu juga Kemang, nama kawasan yang populer di Jakarta Selatan yang sebenarnya nama jenis buah, merupakan inspirasi dari pengembangan motif batik betawi karya batikpohon.

Menggunakan pewarna dari bahan alami, motif baru batik betawi ini diperkenalkan sebagai varian baru sekaligus pilihan membuat batik di Jakarta dengan tanpa mengganggu lingkungan dari limbah produksi batik.

Terakhir Diperbaharui pada Senin, 21 November 2011 21:19
 
Batik Warna Alam di Antara Gemerlap Batik Warna Sintetis
Ditulis oleh admin   

Event khusus bagi penyuka dan perajin bBatik warna alam yang baru saja digelar di Kota batik Pekalongan, bisa dijadikan tolok ukur keberanian para perajin batik untuk membuat batik yang cukup melawan arus. Di tengah riuhnya permintaan batik dengan warna cerah hasil pewarnaan bahan warna sintetis, perajin batik pengguna pewarna  zat warna alami, dihadapkan pada situasi yang dilematis. Tetap memilih zat warna alami berarti cashflow tersendat, atau hijrah memilih warna sintetis yang mengganggu karena dirasa ada sebuah 'penghianatan' terhadap pilihan cara pembuatan batik yang diyakininya memiliki lebih banyak nilai kebaikan. Atau mencoba berkompromi, menjadikan batik warna alam sebagai sambilan.

Sebagai batik yang tidak sepopuler batik-batik cerah warna sintetis, batik warna alam masih belum begitu disukai penggemar batik. Batik-batik warna cerah dan memiliki kombinasi yang sangat beragam hasil warna zat kimia seperti batik Pekalongan, Batik Madura, dan batik-batik daerah lain, telah terlanjur menjadi trend yang sangat kuat dan melekat di hati konsumen batik. Warna kalem yang dihasilkan batik warna alam masih harus diperjuangkan agar memiliki tempat di hati konsumen secara lebih luas.

Berharap pada kecenderungan kebosanan dan pergeseran selera,  suatu saat minat masyarakat pada batik akan bergeser ke batik-batik warna kalem. Begitupun kesadaran akan produk ramah lingkungan  akan ikut memberi harapan bahwa spilihan masyarakat konsumen batik akan berpihak pada batik warna alam. Di luar itu, menjadi tantangan bagi para perajin batik pengguna zat warna alam untuk melakukan inovasi agar kualitas karya-karyanya mampu merebut hati konsumen.

 
Proses Perbaikan yang Menggairahkan
Ditulis oleh admin   

Belasan lembar kain batik warna alam yang dibuat saat batikpohon mengawali pembuatan batik, semula menjadi tumpukan kain yang menyesakkan dada. Warna-warna pudar, tidak merata, sebagian bahkan hilang motifnya, membuat kami merasa gagal. Ketika semangat memperbaikinya berhasil dibangkitkan, maka proses membatik dan mencelup ulang -yang sampai lebih 20 kali- pun kami lakukan. Diluar perkiraan, sejumlah 'warna gagal' ternyata menjadi investasi untuk keindahan warna yang kami dapat kemudian. Warna-warna pertama menjadi penambah jumlah pencelupan, sekaligus menguatkannya. Sejak saat itu, belasan batik warna alam gagal yang kami punya menjadi calon karya kebanggaan dan membuat memperbaikinya  menjadi proses membatik yang menggairahkan.

 
Nembok Ekstra Batik Cerita
Ditulis oleh admin   

Meskipun ukuran kain yang dibatik tidak seluas batik kain panjang, sarung  atau kain untuk baju, lukisan batik dengan cerita seri mahabarata episode Terbakarnya Bale Sigala-gala yang tengah diselesaikan dengan teknik batik warna alam oleh batikpohon ternyata perlu keseriusan lebih.

Menentukan bidang mana yang perlu ditutup (nembok) dan mana yang tidak, memeras perhatian tersendiri. Wajah, badan, mahkota, kain dan asesoris tokoh Pandawa dan Kurawa, juga latar belakang berupa ilustrasi tanaman atau bebatuan, air, gunung, perlu dipikirkan ditutup atau tidak untuk setiap tahap pewarnaan. Lukisan batik perlu kesabaran dan ketelatenan ekstra yang berbeda.

Terakhir Diperbaharui pada Minggu, 18 Juli 2010 11:39
 
Man In Black Batik (MIBB)
Ditulis oleh admin   

Batik Warna Alam dengan latar (dasar) warna hitam (ireng) kali ini diperoleh melalui pencelupan warna terakhir dengan rebusan Kulit buah Jalawe dan warna dikunci dengan Tunjung (karat besi). Beberapa bagian motif telah diwarna dengan berharap akan mendapatkan warna soga dan merah bata telah melalui 19 kali pencelupan pewarnaan dengan kombinasi rebusan kayu Tingi dan kulit pohon Mahoni dan fiksasi dengan air kapur. Karena latar kurang hitam pekat maka unsur biru dalam hijaunya hasil warna kulit buah Jalawe diharapkan akan memberi kepekatan hitam pada latar motif seri ini.

Batik warna alam batikpohon dengan seri latar hitam (ireng), mencoba memberi lebih banyak pilihan bagi penyuka  baju warna hitam. Berbeda dengan batik kebanyakan saat ini yang lebih menyukai warna-warna cerah menyala, nuansa hitam akan mendominasi sebagaian besar desain batikpohon. Memang pilihan warna hitam ini lebih banyak untuk kaum pria, karena sebagian besar batik siap jahit yaang melengkapi koleksi terbaru batik pohon memang dipola untuk baju pria. Pria penyuka warna hitam : mereka yang akan disebut sebagai Man In Black Batik.

Terakhir Diperbaharui pada Minggu, 18 Juli 2010 11:41
 
Latar Irengan dengan Jalawe & Tunjung
Ditulis oleh admin   

Batik Warna Alam dengan latar (dasar) warna hitam (ireng) kali ini diperoleh melalui pencelupan warna terakhir dengan rebusan Kulit buah Jalawe dan warna dikunci dengan Tunjung (karat besi). Beberapa bagian motif telah diwarna dengan berharap akan mendapatkan warna soga dan merah bata telah melalui 19 kali pencelupan pewarnaan dengan kombinasi rebusan kayu Tingi dan kulit pohon Mahoni dan fiksasi dengan air kapur. Karena latar kurang hitam pekat maka unsur biru dalam hijaunya hasil warna kulit buah Jalawe diharapkan akan memberi kepekatan hitam pada latar motif seri ini.

Terakhir Diperbaharui pada Selasa, 22 Juni 2010 08:09
 
Frekuensi Celup-Jemur Melambat
Ditulis oleh admin   

Pewarnaan batik warna alam beberapa hari ini melambat. Mendung memaksa proses celup-jemur maksimal hanya bisa tiga kali sehari, dibanding bila langit cerah yang bisa lima bahkan enam kali sehari. Start celup jemur harus lebih pagi, toh yang penting pewarna dan kain teroksidasi. http://www.batikpohon.com/

 
Direbus Agar Warna Melekat Bagus
Ditulis oleh admin   

Jauh sebelum diwarna dengan bahan warna alam, bahkan sebelum digambar (disunggging) motif dengah pensil, kain untuk batik warna alam terlebih dahulu direbus. Perebusan dimaksudkan agar kotoran dan sisa lemak bersih sehingga tidak menghalangi pewarna alami menembus dan melekat pada kain.Sederhana, namun cara ini akan memudahkan proses pewarnaan dan warna lebih tahan lama.

 
«MulaiSebelumnya12SelanjutnyaAkhir»

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL