|
Ditulis oleh admin
|
|

Event khusus bagi penyuka dan perajin bBatik warna alam yang baru saja digelar di Kota batik Pekalongan, bisa dijadikan tolok ukur keberanian para perajin batik untuk membuat batik yang cukup melawan arus. Di tengah riuhnya permintaan batik dengan warna cerah hasil pewarnaan bahan warna sintetis, perajin batik pengguna pewarna zat warna alami, dihadapkan pada situasi yang dilematis. Tetap memilih zat warna alami berarti cashflow tersendat, atau hijrah memilih warna sintetis yang mengganggu karena dirasa ada sebuah 'penghianatan' terhadap pilihan cara pembuatan batik yang diyakininya memiliki lebih banyak nilai kebaikan. Atau mencoba berkompromi, menjadikan batik warna alam sebagai sambilan.
Sebagai batik yang tidak sepopuler batik-batik cerah warna sintetis, batik warna alam masih belum begitu disukai penggemar batik. Batik-batik warna cerah dan memiliki kombinasi yang sangat beragam hasil warna zat kimia seperti batik Pekalongan, Batik Madura, dan batik-batik daerah lain, telah terlanjur menjadi trend yang sangat kuat dan melekat di hati konsumen batik. Warna kalem yang dihasilkan batik warna alam masih harus diperjuangkan agar memiliki tempat di hati konsumen secara lebih luas.
Berharap pada kecenderungan kebosanan dan pergeseran selera, suatu saat minat masyarakat pada batik akan bergeser ke batik-batik warna kalem. Begitupun kesadaran akan produk ramah lingkungan akan ikut memberi harapan bahwa spilihan masyarakat konsumen batik akan berpihak pada batik warna alam. Di luar itu, menjadi tantangan bagi para perajin batik pengguna zat warna alam untuk melakukan inovasi agar kualitas karya-karyanya mampu merebut hati konsumen.
|